RIWAYAT HIDUP

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

Prakata

Sambutan Anak ke-2

Daftar Riwayat Hidup

a. Silsilah

b. Masa Anak-Anak

c. Masa Remaja dan Pemuda

Pembentukan Keluarga Palilingan-Watulingas

a. Pernikahan

b. Lanjutkan Tugas (Rumah Tangga Baru)

c. Menggarap kebun dan hasilnya

DAFTAR RIWAYAT HIDUP DRS. BERNHARD ALEXANDER PALILINGAN SERTA KELUARGA BESAR PALILINGAN-WATULINGAS


DAFTAR ISI

1. Prakata dan Sambutan Anak ke-2 mewakili anak-anak (Prof. Dr. Rolles N. Palilingan, MS., AIF)

2. Daftar Riwayat Hidup dari Drs. Bernhard Alexander Palilingan, terdiri dari :

a. Silsilah

b. Masa Kanak-kanak

c. Masa Remaja dan Pemuda

3. Pembentukan Keluarga Palilingan-Watulingas, terdiri dari :

a. Pernikahan

b. Lanjutkan Tugas

c. Menggarap Kebun

4. Pindah Tinggal di Manado

a. Sengketa dengan Hukum Tua Kapataran

b. Pindah ke Manado

c. Kuliah dan Dosen

d. Masa Pensiun

5. Pengabdian pada Masyarakat

a. Jemaat

b. Pemerintah

c. Rukun-rukun

d. Tur Rohani

6. Kesaksian

a. Pencobaan (Luput)

b. Merubah Tradisi

7. Syukuran

8. Materi-materi Komisi PWG

9. Penutup

a. Manfaat Riwayat Hidup

b. Terima Kasih

c. Susunan Doa Umum Sesuai Rumusan Tata Gereja

Prakata

Tiap langkahku diatur oleh Tuhan, karena itu wajiblah saya menyatakan sembah puji syukur, serta hormat kepada-Nya. Perlunya sejarah sebagai motivasi belajar, kenangan kepada orang yang dicintai, mendatangkan berkat (Amsal 10 : 7).

Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya (Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno).

Biarlah buku kecil ini boleh memperluas wawasan hidup ke depan bagi anak-anak dan cucu-ceceku, bahkan siapa saja yang sempat membacanya.

Jadikanlah buku kecil ini sebagai cenderamata dari Papa, Opa, Opa Tua untuk anak-anak, cucu-cucu dan cece-ceceku terutama bagi mereka cece-cece yang tidak sempat lagi melihat wajah Opa Tua semasa hidupnya.

SYALOM!

Manado, 8 Januari 2021.

Papa/Opa

(B.A.Palilingan)

Sambutan Anak ke-2


Daftar Riwayat Hidup

I. Keterangan perorangan/keluarga

a. 1. Nama Lengkap : Bernhard Alexander Palilingan (Yules)

2. NIP : 130 108 053

3. TTL : Kapataran, 15 April 1938

3. Pangkat/Gol : IVa

4. Pekerjaan : Pensiunan/Dosen IKIP Negeri Manado,

Fakultas Ilmu Sosial,

Jurusan Civic Hukum (CH).

b. Ayah : Edward Palilingan (Dewa) ; meninggal : 1 Juni 1985

Umur 99 tahun.

Ibu : Helena Sophia Rumawas; meninggal dan umur (sudah tidak terlacak datanya).

Saya (Bernhard Alexander Palilingan) adalah anak ke-6 dari 6 bersaudara tambah 1 anak tiri.

c. Menikah tanggal : 27 Mei 1961 di Kapataran (sesudah perjuangan PERMESTA), dengan istri :

1. Nama : Josephine Watulingas (Rousye)

2. TTL : Kapataran, 23 Desember 1942

3. Asal Keluarga Besar : Keluarga Watulingas-Paath

4. Anak Sulung dari : 5 bersaudara

d. Melahirkan anak-anak, cucu-cucu, cece sebagai berikut:

1. Drs. Christ Ronson Palilingan tidak kawin; meninggal tanggal 18 Mei 2015.

2. Prof. Dr. Rolles Nixon Palilingan, MS., AIF. Istri : Dr. Meity Martina Pungus, MS., AIFO (Anak ke-2 dari Keluarga Pungus-Kaligis), memiliki 2 orang anak sebagai berikut : 1. Septiany Christin Palilingan, S.Si., M.Si. Suami : Farly Reynol Tumimomor, S.Si., M.Si (Anak ke-1 dari Keluarga Tumimomor-Pantolaeng); 2. Kenneth Yosua Rumawas Palilingan, ST., MT. Istri : Visye Pioh..........(Anak ke-1 dari Keluarga Pioh Rompas), memiliki anak 1, bernama Keyrellin Palilingan.

3. Ampera Putera Palilingan, SH. Istri : Hellen Posumah (Anak ke-2 dari Keluarga Posumah-Watulingas), memiliki 2 orang anak sebagai berikut : 1. Alennov Palilingan, S.Pd; 2. Tesalonika Palilingan (sedang kuliah di Program Studi IT, Fakultas Teknik, angkatan tahun 2018).

4. Syenie Oosje Palilingan, S.Pd. Suami: Jhon Sinaulan (Anak ke-3 dari Keluarga Sinaulan-.........), memiliki 3 orang anak sebagai berikut : 1. Bright Yupiter Sinaulan, ST; 2. Fouril Paskah Gilbert Sinaulan; 3. Jissica Rosyani Sianulan.

5. Edchri Vikram Palilingan, SE. Istri : Judith Lomboan (Anak ke-1 dari Keluarga Lomboan-.........), memiliki 3 orang anak sebagai berikut : 1. Jason Palilingan; 2. Sheren Palilingan; 3. Benaya A. Palilingan.

Jumlah : 10 orang cucu dan 1 cece.

II. Pendidikan

1. Sekolah Rakyat (6 tahun), tamat tahun 1953, di Tondano.

2. Sekolah Guru B (SGB) Negeri (4 tahun), tamat tahun 1957, di Sasaran, Tondano.

3. Sekolah Guru A (SGA) Negeri (4 bulan ekstra Nei sesudah pergolakan PERMESTA), tahun 1964, di Manado.

4. IKIP Negeri FKIS/FPIPS, Jurusan: CH/PPKN, tamat tahun 1984, di Manado.

III. Riwayat Pekerjaan

a. Pegawai Negeri

1. Tanggal 1 November 1957. Guru SR. GMIM di Pulau Gangga/Likupang.

2. Tahun 1959-1961. Pasukan PERMESTA.

3. Tanggal 20 Februari 1962. Guru SR Neheri Kapataran.

4. Tanggal 1 Februari 1974. Kepala SD Negeri Kapataran.

5. Tanggal 1 Juli 1978. Staf Dinas PDK Wilayah Eris di

Tandengan.

6. 1 Juli 1980. Tugas belajar di IKIP Negeri Manado.

7. Tanggal 1 Oktober 1987. Staf pengajar di IKIP Negeri Manado.

8. Tahun 1995. Permohonan Pensiun.

b. Pegawai Swasta

1. Tahun 1972 - tahun 1975, Kepala SMP Kristen Kapataran.

2. Tahun 1985 – tahun 1988 Guru SMA Kosgoro di Manado dan Guru SMA Dharma Wanita di Seretan dan Eris.

3. Tahun 1995 – tahun 2003, Dosen Fakultas Teologia & Fakultas Hukum UKIT di Tomohon.

c. Pengabdian pada Masyarakat

1. Anggota LKMD. Kelurahan Kleak Manado, Ketua Seksi P4 tahun 1987.

2. Ketua RW Kelurahan Kleak Lingkungan 1 tahun 1989.

3. Ketua RT Sejahtera Lingkungan 1 & 2 Manado dari tahun 1984-2007 (23 tahun).

4. Partisipasi ORPOL: Ketua Ranting Kapataran IP-KI tahun 1965, Sekretaris Golkar tahun 1974. Ketua PDKB Kecamatan Malalayang tahun 1995.

5. Bendahara PDKB Kotamadya Manado tahun 1995.

6. Ketua Wreda Tama/PWRI Kelurahan Kleak (Tahun 2018-2021).

7. Wakil Ketua PWRI Manado II (Tahun 2018-2021).

d. Pengabdian dalam Jemaat

1. Majelis Jemaat Kapataran tahun 1975.

2. Majelis Jemaat Musafir Kleak tahun 1980 - 2005 (5 periode).

3. Anggota BMPJ Sekretaris Jemaat tahun 1975 – 2005.

4. Anggota BPPJ Musafir Kleak tahun 2005 – 2009.

5. Penasehat Jemaat Musafir Kleak tahun 2005 – 2017.

6. Ketua Komisi Kerja PWG tahun 2017 – 2021.

e. Tur Rohani

1. Mesir-Israel, 12 hari 19 November - 3 Desember 2011.

2. Singapura-Turki, 12 hari 30 Juni - 12 Juli 2011.

3. Toraja, 7 hari Juni 2019 (Jalan dengan mobil 3 hari).

4. Syukuran 50 tahun perkawinan, 27 Mei 2011 di Aula Santo Joseph Manado.

5. Syukuran 60 tahun perkawinan 27 Mei 2021 di rumah Kleak.

Demikianlah riwayat hidup ini saya susun sendiri (dipersingkat) untuk dipakai seperlunya yang akan diakhiri dengan pembacaan Nas Alkitab; 2 Timotius 4 : 6-8, yang berbunyi : “4:6 Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. 4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. 4:8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya”.

Manado, 27 Mei 2021

Tanda Tangan.

(Umur 83 tahun)


a. Silsilah

Mulai dari Opa dan Oma Tua.

a. Opa Tua & Oma Tua

Keluarga Palilingan-Kandouw asal Tondano melahirkan :

- Keluarga Palilingan di Koya

- Opa Paulus : 2 anak perempuan : Hany Palilingan dan ......

- Opa Pele (Keluarga Palilingan-Meray)

- Oma Anci (Keluarga Tombokan-Palilingan)

- Keluarga Palilingan di Tumaluntung

- Opa Karel (Keluarga Palilingan-Koroh)

- dan lain-lain (sudah tidak terlacak)

b. Opa dan Oma sebelah Papa Eduard (Keluarga Palilingan-Koroh) asal Tondano melahirkan :

- Eduard Palilingan, Keluarga Palilingan-Rumawas.

- Nontje Palilingan, Keluarga Palilingan-Bolung.

- Barnetje Palilingan, Keluarga Palilingan-Hermanus.

- Leni Palilingan, Keluarga Lomboan-Palilingan.

- Ferida Palilingan, Keluarga Palith-Palilingan.

- Paulus Palilingan, Keluarga Palilingan-Tumbel.

- Magriet Palilingan, Keluarga Kumontoy-Palilingan.

- Gradus Palilingan, Keluarga Palilingan-Sanggor.

- Anak Bersaudara dari Istri/Ibu Koroh (Keluarga Palilingan-Koroh) melahirkan :

- Keluarga Lomboan-Koroh : Opa Denan dan saudara-saudara (sudah tidak terlacak)

- Keluarga Koroh-Watanabe (Orang Jepang) di Tagulandang

c. Opa dan Oma sebelah Mama Helena (Keluarga Rumawas-Lalowong) melahirkan 3 bersaudara, yaitu :

- Helena Rumawas. Keluarga Palilingan-Rumawas.

- George Rumawas. Keluarga Rumawas-Talumikir.

- Klara Rumawas. Keluarga Lomboan-Rumawas.

Papa : Edward Palilingan, anak yang tua dari 8 bersaudara.
Mama : Helena Rumawas, anak yang tua dari 3 bersaudara.
Perkawinan papa Edward dan mama Helena mempunyai anak, 6 bersaudara, yaitu :

1. Frans Palilingan. Keluarga Palilingan-Lompoliu (Orang Kayuroya).

2. Hengkie Palilingan. Keluarga Palilingan-Pakasi (Orang Tulap).

3. Kandow Palilingan. Keluarga Palilingan-Tinangon (Orang Kapataran).

4. Rosalie Palilingan. Keluarga Hermanus-Palilingan (Orang Kapataran)

5. Herman Palilingan. Keluarga Palilingan-Watulingas (Orang Kapataran)

6. Yules Palilingan. Keluarga Palilingan-Watulingas (Orang Kapataran)

Papa kawin kedua kalinya dengan istri bernama: Antoneta Nangin membentuk Keluarga Palilingan-Nangin mendapat anak yang ke-7 bernama Relly Palilingan.

Waktu sejarah ini ditulis, tinggal 1 orang yang hidup (Yules Palilingan)

b. Masa Anak-Anak

Kehidupan masa anak-anak sebagai anak yang ke-6 (bungsu). Masih berusia 6 tahun mama sudah meninggal. Dari 6 bersaudara 3 orang yang belum menikah ialah Kandow, Herman, dan Yules. Jadi kehidupan sangat sulit (sangat liar) karena tidak terdidik oleh mama. Jadi hidup berpindah-pindah antara kakak yang 1 ke kakak yang lain. Jadi, hidup tidak menetap sebab sebagai anak yang nakal juga, dimarahi oleh kakak yang satu pindah ke kakak yang lain sehingga tidak terdidik dengan benar. Tak lama kemudian papa menikah untuk ke dua kalinya. Jadi, saya diasuh oleh mama tiri selama kurang lebih 6 tahun.

c. Masa Remaja dan Pemuda

Tahun 1953 tamat SR, di SD Negeri 1 Tondano, sesudah tamat saya melanjutkan sekolah di SGB Negeri Tondano (Sasaran), pendidikan di sekolah guru B di tempuh selama 4 tahun dan ikatan dinas. Uang sekolah tidak bayar dan tiap bulan mendapat uang saku dari sekian siswa seangkatan, saya salah 1 dari 10 murid yang harus masuk asrama, bersama dengan kakak kelas di atas 2 dan 3 angkatan sebelumnya.

Sampai tamat tahun 1957 dua kali terusir dari sekolah karena kenakalan (ada kisah tersendiri) salah satu sebab selain memang pembawaan, juga karena papa di zamannya termasuk salah satu orang yang kaya di Kapataran. Ternyata dari sekian banyak anak sekolah orang Kapataran di Tondano hanya saya yang memiliki dua buah sepeda dan kamera foto.

Bersyukur saya boleh juga lulus dari SGB tahun 1957, sekalipun dengan nilai rata-rata “laut” (sedikit lagi tenggelam). Selanjutnya langsung ditempatkan sebagai guru di SD GMIM di pulau Gangga, Kecamatan Likupang. Disana saya kost di rumah keluarga Tamudia-Takumansang; bapak sebagai kepala desa dan merangkap ketua jemaat di desa ini penduduknya 99% orang Siau (Sangihe) hanya pak guru Taroreh dari desa Lemo sama-sama orang Minahasa sama dengan saya, dengan sendirinya lingkungannya dengan orang yang berbudaya pemabuk (suka minum alkohol) karena boleh bergaul dengan akrab dengan tua-tua dan muda-muda.

Tahun 1959 (masa PERMESTA) tentara pusat mulai mengepung daerah Minahasa mulai di pulau-pulau (Bangka, Kalise, dan Gangga) dikuasai oleh pasukan Siliwangi kapten Bert Supit dan Mayor Makaminang. Kira-kira tiga bulan saya bergaul dengan tentara pusat, saya mendapat kesempatan belanja dengan rakyat ke desa Likupang (Minahasa) yang sementara dikuasai tentara PERMESTA. Setelah beberapa hari di Likupang saya mendapat kesempatan pulang ke Kapataran dengan berjalan kaki, sering menumpang di mobil patroli tentara PERMESTA.

Di Kapataran daerah PERMESTA jadi, semua anak-anak muda harus menjadi tantara PERMESTA, saya masuk anggota batalion “Y”/SaptaMarga dengan komandan Mayor T. Merai (asal Koya) bertugas sebagai bintara sekuriti S1 (ada kisah tersendiri selama 2 tahun) memasuki tahun 1961, seluruh kota-kota daerah PERMESTA sudah dikuasai oleh tentara pusat, dan tentara PERMESTA mundur ke daerah-daerah pedalaman.

Pembentukan Keluarga Palilingan -Watulingas

a. Pernikahan

Setelah bergaul cukup lama di daerah tugas Batalyon “Y. Sapta Marga” (Kapataran, Tulap, Kayuroya, Karor, Watulaney, Kayuwatu, Tulap ). Saya sempat berpacaran sampai 4 kali; yang terakhir gadis rebutan orang Kapataran yang bernama Rousye Watulingas dari keluarga Watulingas-Paath. Hanya dalam waktu kurang lebih 6 bulan karena hubungan sudah akrab muncullah rencana kami berdua untuk melanjutkan hubungan cinta kasih menuju pernikahan.

Peneguhan nikah dilaksanakan di Rumah Gereja Kapataran oleh Ketua Jemaat Alm. Bpk A.P Tinangon, waktu itu orang-orang kampung baru pulang dari penyingkiran (tinggal di kebun) karena perang PERMESTA. Belum ada Pendeta yang ditugaskan di Jemaat Kapataran, jadi pernikahan kami yang pertama-tama sesudah penyingkiran dari kebun. Sebab sudah tiba masa penyelesaian atau perundingan antara tentara pusat dengan tentara PERMESTA.

Tepatnya pernikahan pada tanggal 27 Mei 1961. Acara ibadah jam 15.00 Wita. Sesudah acara resepsi di rumah sampai jam 20.00 Wita. Komandan Batalyon, Mayor Merai hadir dengan pasukan. Sesudah ramah-tamah di ruang atas rumah, bermain Bridge atau kartu. Di halaman depan rumah, ada acara dansa-dansa yang hanya diterangi dengan bulan purnama karena belum ada minyak tanah. Kira-kira jam 24.00 Wita, masuklah kedua penganten ke dalam kamar untuk memulai “pertarungan yang pertama”.

b. Lanjutkan Tugas (Rumah Tangga Baru)

Karena masih muda, pikiran belum tahu apa arti rumah tangga yang sebenarnya; yang penting sudah menikah, selama kurang lebih 2 bulan makan tidur bersama keluarga kakak Hengki di rumah besar. Sesudah itu untunglah istri sudah sadar bahwa rumah tangga betul-betul harus mandiri tidak berharap makan sehari-hari hanya kepada orang lain. Karena itu, selanjutnya pada suatu hari istri menyiapkan diri : cari peda, mengambil bakul dan baju kebun, lalu membangunkan saya yang sedang tidur untuk berangkat ke kebun mengambil buah kelapa untuk dicukur menjadi minyak. Dari sini, dimulailah kehidupan rumah tangga yang baru secara mandiri, untuk makan sehari-hari dengan cara tersebut setelah minyak kelapa terkumpul beberapa botol; selanjutnya istri membawa ke pasar di Watulaney (bersama ibu-ibu lain) minyak tersebut ditukar dengan bahan seperti: beras, ikan, sabun, dll.

Betul-betul memulai rumah tangga tanpa bantuan orang tua sebelah menyebelah; sebab saya anak yang bungsu (orang tua sudah tua) dan istri anak yang tua masih ada 4 orang adik. Karena sudah berumah tangga, papa menyerahkan sebidang kebun yang berisi kelapa 52 batang sebagai warisan. Setiap hari harus ke kebun mengambil kelapa dan kami suami istri mencukurnya menjadi minyak; sebab waktu itu baru selesai perang PERMESTA jadi, belum ada kesempatan mencari pekerjaan yang lain.

Setahun kemudian SDN Kapataran dibuka kembali, kepala sekolahnya M.R Kandey dengan dua orang pembantu saja sebab itu kepala sekolah menemui saya dan menawarkan menjadi guru pembantu tambahan karena belum langsung mendapat gaji. Jadi setiap hari, kerja saya ambil kelapa di kebun untuk dijadikan minyak.

Kepala sekolah memerintahkan anak-anak sekolah (kira-kira 150 orang) membawa kelapa setiap murid 2 biji sebagai gaji saya. Jadi waktu yang saya pakai mengambil kelapa di kebun, diganti dengan mengajar di sekolah.

c. Menggarap kebun dan hasilnya

Kesempatan kalau saya ke kebun mengambil kelapa sekaligus mengambil kesempatan mencari bibit cengkih di pinggir jalan dan langsung ditanam di kebun yang belum digarap. Sudah cukup banyak bibit yang ditanam di antara pohon-pohon kayu dan kelapa, kami suami istri mengambil kesempatan mulai membersihkan pohon-pohon cengkih yang baru ditanam tersebut. Karena belum punya biaya, caranya hanya dengan mencabut rumput-rumput sekitar pohon dan memotong kayu yang tumbuh di sekitarnya. Dengan nekat dan mengandalkan tenaga sendiri saja sambil mencari makan sehari-hari secara rutin, tak terasa penuhlah lahan dengan ukuran hanya kurang lebih 1 Ha sebagai modal dari orang tua. Jumlahnya hanya sekitar 125 batang yang ditanam di sela-sela pohon kelapa yang sudah tua.

Dengan modal nekat dan siap berkorban tetapi juga dengan kekuatan dan kesehatan yang dianugrahkan Tuhan kepada kami suami istri, tanaman ini terpelihara dengan baik sampai umur kira-kira 5 tahun, mulailah kami menikmati hasilnya. Bersamaan dengan tanaman ini, dalam waktu 6 tahun kemudian rumah tangga kami dikaruniai 5 orang anak yang lahir secara rutin setiap 2 tahun; yang sulung lahir tahun 1962, sampai yang bungsu lahir tahun 1970. Demikianlah berkat Tuhan yang mengatur jalan kehidupan rumah tangga kami; sehingga anak yang sulung mulai sekolah SD langsung merasakan bantuan dari hasil jerih payah, (keringat darah) yakni cengkih mulai menghasilkan sampai pada tahun 1977.

4. Pindah Tinggal Di Manado

A. Sengketa dengan hukum tua

Pada tahun 1977 disinilah terjadi perselisihan dan perseteruan antara saya sebagai kepala sekolah dan hukum tua Tewu Hermanus (sebabnya ada kisah tersendiri).

Atas permohonan tua-tua desa pada suatu saat mereka mendatangi rumah saya dengan maksud supaya saya sebagai kepala sekolah boleh menerima usulan mereka untuk membuat laporan-laporan atas segala kejahatan yang sudah diamati selama pemerintahan hukum tua tersebut antara lain pemerintahan ala jaman jepang, menjual milik-milik desa antara lain: kebun desa di tetekalat, kintal sekolah di talikuran (oleh om Yon Lomboan), kintal pasar desa di sendangan (oleh Wolter Aluy), gedung puskesmas (disebelah kiri gedung gereja). Dan kepala desa yang memberi contoh yang tidak baik dimasyarakat ialah ada istri peliharaan kedua.

Atas pertemuan saya dengan tua-tua desa tersebut saya katakan: ya saya sangat setuju atas bahan-bahan laporan tersebut. Jadi saya siap untuk menyusun laporan yang akan dikirim ke - : Gubernur berturut-turut ketingkat bawah sampai ke kecamatan, juga ke Kodam, Kodim, dan Koramil (karena beliau adalah pensiunan militer). Isi laporan tersebut sekaligus dengan maksud supaya kepala desa diberhentikan.

Saya katakan kepada tua-tua desa, karena pemerintahan sekarang jaman Golkar ada aturan bahwa semua penjabat pemerintah baik sipil ataupun militer punya komitmen bersama untuk tidak saling berseteru (1 komando) oleh sebab itu saya sebagai kepala sekolah dan beliau sebagai kepala desa tidak boleh bertentangan. Oleh sebab itu saya katakan setelah laporan ini selesai Bapak-bapak jalankan kepada tokoh-tokoh masyarakat untuk ditanda tangani tetapi saya sebagai kepala sekolah tidak boleh menandatanganinya. Pada akhirnya laporan ini ditanda tangani oleh 15 orang yang selanjutnya dinamai angkatan 15.

Sebagai catatan: Sebelum laporan ini diketik saya mohon persetujuan dari ketua jemaat waktu itu ialah bapak pendeta Frans Tiwa. Saya panggil dia untuk datang kerumah saya dan konsep laporan tersebut saya katakan kepada beliau: Ini laporan yang saya buat atas permohonan dari tua-tua kampung untuk memberhentikan hukum tua desa kita. Jadi tolong bapak baca baik-baik maksudnya untuk mendapat persetujuan dari bapak pendeta baru laporan ini saya ketik. Ternyata beliau menambahkan beberapa pokok untuk melengkapi laporan dimaksud. Dengan demikian atas dukungan bapak pendeta laporan ini diselesaikan dan langsung dikirim ke alamat-alamat yang tersebut diatas. Tidak berapa lama mulailah pengusutan laporan oleh yang berwenang mulai dari tingkat Gubernur oleh Kodam (balak intel) dipanggilah semua terlapor (hukum tua dan saksi-saksi lain) giliran kemudian ialah semua para pelapor.

Tetapi akhirnya permasalahan tersebut terendap tidak ada kelanjutan sebab jaman pemerintahan Gubernur Worang 2 keponakan dari hukum tua ialah Bapak Edi Hermanus dan Utu Hermanus berada dalam posisi yang baik yang mempengaruhi jalannya pemerintahan masa itu. Jadi yang turut membela atau melindungi hukum tua, Edi Hermanus sebagai anggota DPR dati 1, dan Utuk\ Hermanus sebagai pemborong besar dari proyek Gubernur.

Laporan kami diulangi lagi setelah Gubernur Worang di ganti oleh Gubernur Welly Lasut. Beliau adalah hubungan keluarga dekat dengan Hukum Tua Tewu Hermanus. Namun karena teman-teman Angkatan 15 juga banyak keluarga dengan Gubernur Lasut, merekalah yang langsung membawa arsip-arsip laporan kepada Gubernur Worang yang lalu. Karena Gubernur Lasut orang yang beriman (tidak pandang keluarga); setelah mempelajari laporan tersebut langsung membentuk Tim Pencari Fakta yang turun ke Desa Kapataran. Hasilnya, Gubernur langsung perintahkan supaya Hukum Tua Tewu Hermanus membuat permohonan berhenti supaya tidak di pecat. Permohonan tersebut pada akhirnya saya sendiri yang di minta tolong oleh Hukum Tua membacanya pada kebaktian di Rumah Gereja hari minggu. Selanjutnya hanya 1 minggu kemudian beliau di berhentikan dengan hormat.

B. Pindah Ke Manado

Dalam hubungan dengan sengketa ini supaya konflik kedua pihak tidak berkepanjangan, sebagai Kepala Sekolah saya juga turut di mutasikan menjadi Pegawai Dinas PDK Kecamatan Eris di Tandengan. Hanya setahun kemudian, saya diberi penawaran oleh Kepala PDK Kab. Minahasa Bpk. W. Winokan ( Keluarga dekat ) untuk;

- Menjadi Kepala PDK Kecamatan, atau kuliah Ke PT IKIP Negeri Manado Setelah di sampaikan kepada istri ( musyawarah ) kesimpulannya memilih untuk kuliah karena kebetulah kedua anak yang tua sudah masuk SMA

Namun sebelum pindah ke Manado, saya di halang-halangi dengan persoalan teman-teman seangkatan yang melaporkan Kepala Hansip Desa Kapataran Poltje Hermanus. Sebab beliau dengan menggunakan ijazah palsu sehingga mendapat SK guru SD. Kami di laporkan balik dengan tuduhan mencemarkan nama baik; dengan menyuap para petugas polres Minahasa. Para pelapor didukung oleh mantan Hukum Tua dan Hukum Tua YL Roring. Sebab Kepala hansip PH, sebenarnya status sebagai tentara KKO, tapi dipecat dari dinas karena perbuatan yang jahat ( ada saksi orang sekampung ) karena menggunakan ijazah guru palsu, sehingga menjadi guru. Ternyata hanya terima gaji guru tetapi tidak mengajar dan bertugas sebagai kepala hansip Desa Kapataran. Akibatnya balas dendam eks Hukum Tua berhasil. Kami ditangkap dan dimasukkan ke sel tahanan Polres minahasa di Tondano. Kisah selanjutnya baca di bagian lain.

Keluarga kami pindah ke Manado mulai bulan Agustus 1980. Tinggal dengan Kel. Kalangi P di Kel. Sario Tumpaan, sewa 2 kamar kontrak 6 bulan Juli – Desember. Karena belum biasa tinggal serumah dengan orang lain, baru 3 bulan sudah mulai timbul sengketa karena anak kami di tuduh mencuri barang tuan rumah. Kebetulan dalam 3 bulan sudah merasakan beratnya uang transport ke 6 orang yang sekolah. Keadaan tersebut mendorong untuk cari tempat tinggal bebas uang transport. Saya menugaskan kel. Dikampus untuk mencari rumah yang mau dijual. Kel. Mamahani dan Osye mendapatkan 3 pilihan dan setelah di pikirkan di putuskan di kel. Kleak Ling 1 rumah dari Kel. Palit Rumagit. Langsung saya tawar dengan pemilik dan disepakati dengan harga Rp 4 juta. Bulan Oktober langsung transaksi. Keterangan Jual Beli dengan saksi Pala Mardani. Oleh Lurah Kalesaran. Lokasi rumah ini 6 orang sekolah dan kuliah tanpa transport. Keadaan rumah ada listrik, 2 kamar dinding tripleks ruang tamu dan dapur. Dan yang terutama ada Parigi yang tak pernah kering sekalipun panas Panjang, lantai beton ukuran 20x 12m. Setelah di perbaiki bulan Oktober juga kami langsung pindah rumah tinggal sampai sekarang. Sementara rumah orang tua di Kapataran yang di pakai oleh Jemaat Kapataran, tempat tinggal ketua Jemaat Pdt. Untu Legoh selama 7 tahun dengan gratis. Setelah Pendeta di mutasikan rumah itu ditinggal secara Bersama oleh orang yang tidak menetap sehingga tidak terawat lagi. Setelah anak ke 2 Reki selesai kuliah dan rencana menikah Tahun 1987, maka rumah di Kapataran di pindahkan ke Manado.

C. Kuliah dan Dosen

Sesudah kurang lebih 2 minggu dibebaskan dari sel tahanan, saya lanjut mengikuti pelonco mahasiswa baru. Jadi sebagaimana biasa harus di gunting botak untuk menjadi kenangan yang lucu ada 2 teman dari sel tahanan ialah Hendrik Karundeng dan Rudy Pakasi; ditangkap ulang sebagai lanjutan dengan perkara pencemaran nama baik dari PH. Selesai pelonco, saya pulang kampung dan ketemu dengan 2 teman tersebut. Ternyata kami bertiga sama-sama di gunting botak, tetapi bedanya keduanya karena penjara dan saya karena kuliah.

Kuliah dimulai bulan Agustus tahun 1980 menjadi mahasiswa IKIP Negeri Manado Fakultas FP IPS Jurusan Civics Hukum ( CH ).

Mulai kuliah dengan muda-mudi, 3 teman guru SMA, 2 teman guru SMP dan saya sendiri guru SD. Jumlah mahasiswa 83 orang, setelah mulai kuliah di dahului dengan pemilihan ketua tingkat mahasiswa jurusan. Ternyata saya sendiri terpilih menjadi ketua tingkat mahasiswa CH.

Sebagai ketua mengurus keperluan kuliah dalam hubungan dengan jadwal, kehadiran, dan urusan mahasiswa dengan dosen. Tetapi untung saya ada kemudahan dalam tugas tersebut karena di bantu oleh sekretaris yang jujur dan setia mahasiswa yang bernama Mardani Mokoginta. Selanjutnya mahasiswa tersebut mengaku sebagai anak angkat saya. Yang luar biasa posisi ini berlanjut sampai selesai kuliah. Selama 4 tahun tiap tahun memilih ketua ternyata sekalipun tak hadir, tetap terpilih juga.

Oleh kemurahan Tuhan, kuliah selama 4 tahun tidak pernah ada anggota keluarga yang sakit, atau dengan halangan-halangan yang lain. Sementara 2 tahun terakhir kami pergi kuliah keluar rumah sudah bersama-sama dengan kedua anak yang tertua Vecky dan Recky. Ampera, Syenie SMA dan Jecky SMP. Memang biaya sekolah 6 orang cukup besar; hanya dengan gaji guru SD namun atas pertolongan dan berkat Tuhan, saya mampu menyelasaikan kuliah pada tahun 1984 bulan Juli dengan hasil Cum Laude (istimewa) IP 3,8.

Memang benar urusan kuliah saya sampai dengan Ampera (4 orang) masih ada topangan dana dari buah cengkih yang lumayan harganya. Tetapi 2 orang kemudian harga cengkih mulai merosot sehingga perjuangan menjadi lebih berat lagi. Tetapi saya sangat bersyukur karena meskipun bermodalkan meminjam (gale sebelah tutup sebelah), Tuhan tetap buka jalan. Karena ternyata tidak pernah mogok kuliah sampai keduanya selesai. Hutang semuanya lunas tidak ada orang yang mengeluh tak terbayar. Ada kesaksian yang penting yang kami alami : “ Apa yang tidak pernah di dengar oleh telinga dan tidak pernah di lihat oleh mata dan yang tak pernah muncul dalam hatimu itulah yang disediakan oleh Tuhan bagi mereka yang mengasihiNYA”. Hasil studi yang gilang gemilang adalah juga suatu kesaksian yang menjadi kenyataan sebagai motto yang saya cantumkan dalam skripsi saya, dikutip dari kitab : Yeremia 33 : 3 “ Berserulah kepadaKu maka Aku akan menjawab engkau …..dst”.

Sesudah beberapa teman seangkatan selesai ujian skripsi, tiba saatnya di adakan acara “Yudisium”. Semua yang sudah lulus nama-nama diumumkan sekaligus hasilnya; dan diumumkan secara resmi oleh Rektor bahwa yang bersangkutan berhak memakai gelan DRS ( Sarjana Pendidikan ). Kami yang lulus dengan predikat Cum Laude dari setiap jurusan di panggil berdiri ke depan dan diperkenalkan kepada seluruh peserta mahasiswa dan dosen-dosen. Selesai Yudisium, setiap jurusan mengadakan acara syukuran. Jadi saya sebagai ketua tingkat mengadakan rapat dengan teman-teman lulusan untuk menetapkan: tanggal, tempat, biaya dan acara syukurannya. Kami pilih tempat di rumah makan anak Gubernur Lasut di Malalayang. Untuk maksud tersebut saya bertugas menjalankan undangan kepada: Rektor, PR-PR, dan dosen-dosen yang lain.Saya mengundang bpk. Prof. W. Senduk sebagai PR 1, yang kebetulan sebagai Ketua Jemaat Musafir Kleak “saya sebagai Penatua di kolom 1”. Saya masuk di kantornya, Prof langsung mengulurkan tangannya dan memberi selamat kepada saya sebagai lulusan yang terbaik dari jurusannya juga. Sesudah bercakap-cakap sekitar acara syukuran, Prof langsung menanyakan kepada saya: “Apakah saya siap untuk dialihkan dari guru SD menjadi dosen …….?” Saya terkejut dengan pertanyaan tersebut karena kebetulan sudah bersiap-siap untuk kembali ke tugas saya. Setelah tertegun sejenak, spontan saya jawab : Kalau Prof boleh tolong, saya siap…..! Prof lanjut bicara: Ngana lulus yang terbaik, saya ada alasan……., ……….; Prof langsung mengambil kertas dan menulis berkas-berkas yang perlu saya siapkan untuk permohonan menjadi dosen. Kemudian beliau menyerahkan catatan tersebut dan sekaligus mengatakan kalau boleh minggu depan saja berkas tersebut ngana bawa di sini ya…..? Rektor sekarang sementara di Jepang.

Setelah menghadap istri namun dengan keheranan saya langsung menyiapkan berkas-berkas tersebut. Tepat seperti permintaannya minggu berikutnya saja, saya membawa berkas tersebut di kantor PR 1. Teringat saya dalam proses persiapan berkas salah satu yang sulit ialah: “Surat lolos butuh dari kepala dinas PDK Sulut”. Waktu itu kepala dinas ialah Drs. Bawole, ternyata saya tidak diijinkan untuk mendapat surat tersebut. Beruntunglah hanya tidak sampai waktu sebulan beliau di ganti oleh Drs Mamangkey, anggota jemaat Bethesda. Kebetulan saya kenal baik dengan Ketua Jemaatnya Pdt. Handri Tumampas, saya minta tolong untuk menghubungi Pak Mamangkey dengan urusan saya. Di pihak lain juga ada keponakan saya: Lexy Mamangkey juga sebagai keluarga dekat dengan kepala dinas Prop. Sulut. Jadi sebelum saya menghadap kepala dinas, kedua jalur penolong ini sudah sempat mengadakan kontak dengan kepala dinas “Jalur keluarga dan Jalur Pelayan”. Setelah ada persetujuan keduanya telah menyampaikan kepada saya baru saya langsung dengan berkas-berkas yang lain. Kepala dinas memeriksa berkas-berkas tersebut dan ternyata tinggal surat lolos butuh yang diperlukan. Pak Mamangkey langsung memerintahkan stafnya membuat surat dan mengatakan kepada saya supaya di tunggu saja di luar. Saya ucapkan terima kasih kepada beliau dan memberi salam dengan jabat tangan dan keluar menunggu surat tersebut. Setelah 3 bulan berkas permohonan dosen di kirim ke Dikti belum ada berita saya langsung merencanakan ke Jakarta. Sebab kebetulan juga berkas Recky dan Meity untuk menjadi dosen sudah di kirim. Kami memutuskan untuk biaya perjalanan sekaligus pada bulan Desember anak yang ke 2 Recky sudah merencanakan pernikahan, sedangkan rumah kami di Manado sangat sederhana yaitu hanya 2 kamar dan dari dinding tripleks. Kami putuskan kebun cengkih di atas kampung di jual saja dengan alasan cengkih di kebun Timu sudah cukup banyak dan cengkih di atas kampung mulai di gerogoti oleh hama Ulat. Harga kebun 15 juta terpakai untuk rumah di kampung dipindahkan ke Manado, Recky menikah bulan Desember sesudah itu saya dengan istri berangkat ke Jakarta untuk urusan surat keputusan dosen (ada kisah tersendiri).

Beruntunga ada beberapa keponakan tinggal di Jakarta sehingga hampir 2 bulan kami tinggal di Jakarta biaya transport urusan atas pertolongan keponakan dengan mobil sendiri mengantar ke kantor-kantor sehingga selesai urusan bulan Maret kami kembali ke Manado.

Dosen :

Proses alih status di mulai, sementara itu saya bertugas sebagai asisten dosen, dan PDK Kab. Minahasa menugaskan saya menjadi tenaga guru di SMA Dharma Wanita Seretan dan SMA di Eris. Guna menambah biaya studi anak-anak saya mengajar sebagai tenaga honor di SMA Kosgoro Kleak Manado. Pada tahun 1986, SK dosen keluar dengan sendirinya tugas-tugas lain yang tersebut di atas ditinggalkan dan beralih tugas tetap sebagai dosen IKIP Negeri Manado Fak. FP IPS jurusan MKDU.

Pengalaman selama tugas dosen cukup menggembirakan antara lain: mengikuti arisan dosen-dosen MKDU, menjadi penatar P4 di seluruh fakultas yang di adakan setiap penerimaan Mahasiswa baru. Kami juga memberi kuliah disebuah Fakultas IKIP Neg. Manado. Terakhir kami yang pertama-tama mengajar dan menjadi penatar P4 di UNIMA Tondano.

D. Masa Pensiun

Sesudah anak yang ke 5 Jacky selesai kuliah; saya dengan masa kerja 40 tahun, bermohon pensiun tahun 1995.

Masa mulai pensiun ini saya mencetak kenangan akhir membuka lahan baru kebun sebagai tahapan yang ke 4 di Timu dengan tanaman semua hanya pohon kelapa saja sebanyak 150 pohon.

5. Pengabdian Pada Masyarakat.

A. Dalam Jemaat.

Di Desa Kapataran.

- Satu-satunya koperasi yang ada pada waktu itu di Kapataran KUD. Pada tahun 1963 teripilih sebagai Ketua.

- Pendiri Partai IP-KI

Dipilih menjadi Ketua Ranting. (Partai tersebut Ketua Umum Jendral AH. Nasution Anggota al : Bapak Eddy Hermanus. Selanjutnya beliau naik menjadi pengurus Kab. Dan Prop. Pada akhirnya diutus menjadi anggota DPR Propinsi SULUT.

Manado Kleak Lingkungan I.

- Mulainya ketua Rukun Tetangga “Sejahtera” Lingkungan I dan II Kleak Th 1984 s/d 2007 (23 tahun). Ketua Rw dan Rt. SK Walikota Lingkungan I Tahun 1985. Rw ( ada 3 Rt ). Hanya berlaku 2 tahun kemudian kembali menjadi Lingkungan.

- Majelis Jemaat “ Musafir “ Kleak :

Thn 1980 s/d 2005 ( 5 periode )

- Anggota BPMJ, Sekretaris, Tahun 1975 s/d 2005.

- Anggota BPPJ Tahun 2005 s/d 2009

- Penasehat Jemaat Tahun 2005 s/d 2017

- Komisi Kerja :

Ketua PWG Periode sampai 2021

B. Dalam Pemerintahan

- Ketua Seksi P4 Kelurahan Kleak Tahun 1985

- Partisipasi Politik :

Ketua PDKB Ranting Kleak Tahun 1985

Ketua PDKB Kecamatan Malalayang, Bandahara PDKB Kotamadya Manado.

C. Rukun – Rukun

- Rukun Keluarga Palilingan Manado Minahasa dari Tahun 1984 s/d 2014 (30 tahun).

- Ketua Rukun “Kasih” anggotanya dari Lingkungan I dan II Kleak Manado.

- BPOM, Sekolah SLB di Jl. Rike Manado, dipilih sebagai Ketua.

D. Tour Rohani :

- Mesir – Israel – Yordan 12hari, tanggal 19 November 2011 s/d 03 Desember 2011.

- Singapura – Turki 12 hari tanggal 30 Juni s/d 12 Juli 2017.

- Toraja ( Grup Pengharapan “ Musafir “ Kleak dengan mobil lewat darat 2 setengah hari ). Selama 7 hari, Juli 2019.

6. KESAKSIAN

A Pencobaan ( Luput )

- Waktu masih kecil, kira kira umur 6 tahun pernah jatuh dari pohon cengkih dan langsung pingsan, untung papa yang bersama-sama ada di tempat kurang lebih 10m jauhnya dari tempat kejadian. Setelah sempat mendengar saya jatuh dan langsung datang melihat saya yang sedang tergeletak pingsan; papa menolong dengan membelah buah kelapa dan menyirami saya dengan airnya sehingga saya menjadi sadar.

- Sebagai tentara Permesta, sekitar tahun 1960, pernah kena tembak di kaki kiri; peluru tepat kena di buku lutut. Sebagai bukti kain celana Panjang ketat, jahitan sebelah menyebelah putus “logikanya pasti tembus di lutut”. Tapi ternyata peluru hanya menyentuh kulit dan terbakar. Setelah di bawa ke unit kesehatan tentara, setelah celana di keluarkan ternyata peluru tersebut hanya meninggalkan kulit yang terbakar. Semua menyaksikan dan penuh keheranan sambal mengamat-amati celana Panjang yang kedua jahitannya tembus peluru.

- Sementara membakar lahan baru untuk kebun, sesudah pohon-pohon kayu ditebang sudah kering selanjutnya dikumpul untuk dibakar. Lahannya terjal/miring, saya memikul sepotong kayu yang cukup berat dari atas dan menurun, ketempat api yang sedang menyala, setelah dekat api, saya lemparkan kayu tersebut dan kaki saya terpeleset masuk bersama-sama kayu di dalam api tersebut. Jadi karena begitu besar nyalanya dan kayu-kayu yang sedang menyala, saya terkurung di dalamnya dan berjingkat-jingkat untuk keluar yang waktunya kurang lebih 2,3 detik di dalam nyala api. Setelah saya dapat keluar ternyata rambut kening saya dan bulu-bulu di kaki habis terbakar dengan baju, tetapi tidak ada luka terbakar di dalam tubuh saya. Saya duduk sebentar sambil bersyukur atas pertolongan kasih saying Tuhan.

- Dalam perjalanan dari Tondano ke Kapataran, saya naik mobil bus milik Sdr. Teddy Roring, setalah turun di depan rumah, sopir turun untuk mengambil barang saya di bagian belakang mobil. Karena kurang teliti, sopir tidak memasang rem tangan, hanya memasang porsneling yang adi di stir. Saya duduk di depan bersama-sama keponakan Enny Palilingan yang menggendong anaknya yang berumur kurang lebih 4 tahun. Pada saat kaki kiri saya keluar pintu untuk turun, mobil meluncur jalan sendiri yang kebetulan jalan menurun terjal ke bawah. Rupanya akibat si kecil menarik porsneling dan maksud ke gigi bebas. Secara gerak refleks tangan saya yang kanan menyetir mobil, sementara kaki kiri terjepit dengan pintu dan tangan kiri saya menahan badan dalam keadaan miring ke kanan karena menjangkau stir untuk dikemudikan. Ternyata untuk pertama kali memegang stir mobil dimampukan oleh Tuhan sehingga dapat melewati orang banyak di jalan dan terlebih lagi disebelah kanan adalah dinding beton dan disebelah kiri parit. Sampai di kerataan, mobil berhenti sendiri dan semua orang datang berkumpul dan menyaksikan bahwa ada sopir istimewa Bpk Jules yang selamatkan mobil itu.

- Pada panen cengkih kira-kira tahun 1973, sementara panen cengkih di kebun atas, pemetik-pemetik cengkih setelah selesai memetik, kira-kira jam 05 sore di jemput dengan roda sapi. Sampai di jalan dekat kebun, pemetik-pemetik memuat karung cengkih ke roda bersusun-susun. Setelah selesai saya menarik sapi untuk dipasangkan ke roda tersebut. Kebetulan sapi kami waktu itu di namai “Banteng” tubuh besar dan tanduk yang tajam. Tak disangka-sangka sapi tersebut menyerunduk saya dengan tanduknya tepat di perut. Saya langsung jatuh terbanting ke tanah, dan sapi berulang-ulang mau menanduk tubuh saya yang sedang jatuh. Jadi dalam keadaan tidur saya menendang sapi pada mulutnya dan pemetik-pemetik menariknya keluar dari tubuh saya. Karena kejadian ini sapi tersebut langsung di sembelih pada perkawinan adik ipar saya Lexi Watulingas.

B. Merobah Tradisi

Yang menarik menjadi kesaksian selama pelayanan, saya mendapat inspirasi dari Tuhan, sehingga ada kemampuan memberikan buah pikiran atau terobosan dalam pemecahan masalah-masalah yang di hadapi jemaat dalam perkembangannya. Yang terpenting antara lain :

1. Selama lahirnya Gereja Musafir 10 tahun : percakapan-percakapan dalam Sidang Majelis

jemaat, dalam hal APBJ, hanya terbatas kepada biaya untuk : Pendeta, Ketua Jemaat, Kostor dan kebersihan halaman gereja. Untuk itu saya mengusulkan supaya Majelis Jemaat turut mendapat anggaran. Untuk pertama kali disetujui oleh Sidang Majelis Jemaat, tetapi ada tanggapan dari teman Majelis Jemaat (Kebetulan sebagai pejabat). Menurut pendapatnya, karena gereja sedang membangun supaya anggaran untuk Pelayan Jemaat di tunda dahulu. Ia berpendapat kalau ada anggaran untuk Majelis, bagi beliau disumbangkan saja ke kas jemaat. Karena anggota majelis, melihat beliau sebagai pejabat ( Drs. Apituley, dosen ), sehingga semuanya terpengaruh dengan pendapat beliau sehingga usulan tersebut di tunda. Untuk beberapa tahun berikutnya, saat saya sudah pensiun, saya usulkan kembali maksud tersebut dengan penegasan, saya sendiri sebagai Majelis Jemaat, sekarang sudah pensiun, maka saya butuhkan anggaran tersebut, sekalipun sekecil apapun jumlahnya. Beberapa tahun lalu usul ini pernah saya kemukakan, tetapi oleh tuan-tuan Majelis Jemaat yang berkelebihan tidak disetujui. Sedangkan kita semua tahu dalam Firman, setiap orang yang bekerja harus mendapat upah. Dengan penegasan saya maka usul tersebut diterima dan dilaksanakan. Yang menarik, kebetulan waktu itu saya sebagai Sekretaris Jemaat, mengamati bahwa tidak seorangpun Majelis Jemaat yang mengembalikan dana kesejahteraan Majelis Jemaat yang sudah diterima. Termasuk kedua Rektor Unsrat dan IKIP, terutama si Drs. Apituley.

2. Pembangunan Menara Gereja.

Pembentukan Panitia, sudah sampai 3 kali lengkap dengan gambar-gambar oleh Arsitek-arsitek. Akhirnya gagal, tidak terlaksana pembangunan tersebut. Sidang berikutnya, untuk panitia yang baru, melanjutkan pembangunan. Dalam siding tersebut, saya mengambil kesempatan untuk mengusulkan : supaya panitia berhasil, seharusnya biaya awal yang di ambil dari Kas Jemaat, diserahkan kepada panitia. Sebab selama ini sudah ketiga kalinya panitia yang dibentuk hanya membuat program sendiri untuk pengumpulan dana, tanpa bantuan Kas Jemaat. Saya jelaskan, secara jujur kita mengetahui bahwa setiap ibadah jemaat, ada dijalankan persembahan 2 kantong yaitu Pelayanan Gereja dan Pembangunan Gereja. Lalu saya bertanya, selama ini kenapa kita tidak berani memposisikan dana kantong-kantong persembahan pembangunan untuk diserahkan kepada panitia? Dengan penegasan ini Sidang Majelis Jemaat menyetujui sekaligus menetapkan dana sebesar Rp 75.000.000,- diserahkan kepada panitia. Jadilah Menara itu seperti yang sekarang ini.

3. Lelang di Gereja.

Selama ini biasanya dalam acara pengucapan syukur oleh jemaat, sambil pencarian dana gereja sudah begitu lama berlaku bagi GMIM, yaitu mengumpul bahan-bahan hasil pertanian di kumpul di rumah gereja sesudah ibadah diadakan pelelangan bahan-bahan tersebut di dalam rumah gereja dengan cara lelang sehingga terjadilah kompetisi untuk saling memberikan tawaran yang besar, yang harganya jatuh kepada tawaran yang tertinggi. Bagi saya hal sangat tidak cocok, karena dengan cara demikian dapat menyingkirkan rasa syukur bagi jemaat yang berkekurangan. Padahal menurut pendapat saya, sangat bertentangan dengan Firman Tuhan (baca dalam Matius 21 : 12 – 17, dan ada yang lain lagi ). Jadi jelas Tuhan Yesus sendiri masuk Bait Allah : mencambuk, memporak porandakan jualan, dan mengusir semua keluar. Atas dasar ini, saya usulkan pelelangan bahan-bahan tersebut biarlah mencari tempat sekitar halaman gereja ( yang halamannya agak besar ), di luar halaman dan gedung gereja. Saya tegaskan mengapa Gereja begitu berani melawan Firman Tuhan hanya untuk mengejar materi pengumpulan dana ( pasti berdosa ). Ternyata, Sidang Majelis Jemaat, menerima usulan saya sehingga pada acara-acara pengucapan syukur tahun-tahun berikutnya, sampai sekarang tidak di berlakukan lagi di rumah gereja.

4. Peneguhan Majelis Jemaat Periode Yang Baru.

Pada periode baru Majelis Jemaat tahun 2018 s/d 2021 Majelis Jemaat Musafir menemui masalah soal pemilihan yaitu : PKB dan Majelis Kolom ………….. biasanya sebelum pemilihan di mulai dengan membacakan aturan-aturan yang harus di patuhi oleh panitia antara lain syarat yang boleh di calonkan. Selanjutnya hasil disahkan oleh Panitia, terus oleh BPMJ. Terakhir di kirim ke Sinode. Yang terjadi saat peneguhan, BPS menunda peneguhan Majelis Jemaat Musafir karena laporan ada yang tidak memenuhi syarat yaitu: Pnt Dolfie Angkow, PKB dan Sym Latusarimala. Jadi Sinode bermaksud supaya diadakan pemilihan ulang. Persoalan sebenarnya yang salah dari panitia dan BPMJ sendiri karena sudah terlanjur salah. Jadi kirim utusan ke Sinode untuk penyelesainnya : 1. Pnt. DR M. Ruindungan, 2. DR ABG Rattu. Ternyata utusan ini gagal menemui kesepakatan. Padahal jemaat sekitar semua sudah di teguhkan, dan waktunya sudah berlarut-larut sampai kurang lebih 4 bulan. Kebetulan Ketua Jemaat : Pdt. Liuw, datang memimpin ibadah di kolom saya kolom 26. Secara kebetulan saya bertanya kepada beliau, mengapa Majelis Jemaat Musafir belum juga di teguhkan? Jawab beliau, Ya Pak Palilingan saya sendiri sudah bingung. Saya mohon Pak Palilingan hadir akang di sidang majelis jemaat berikut untuk boleh membawakan pendapat dalam hal ini. Sebab sampai sekarang hanya terjadi silang pendapat dan tidak menemui keputusan yang pasti. Atas permohonan ini, sidang majelis jemaat berikutnya saya hadir. Setelah terjadi beberapa pembicara mengeluarkan pendapat yang belum final, saya berdiri dan mengusulkan sebagai berikut :

Secara ringkas saya sampaikan, waktu 4 bulan sudah berlalu ; ternyata malam hari ini kita harus mengambil keputusan sendiri. Saya katakan : karena persoalan ini menjadi seperti permainan pingpong yang tidak berkesudahan, ternyata BPW dan BPS tidak berani mengambil kepastian dan hal peneguhan, kalau kita semua sepakat supaya Ketua Jemaat sajalah siap untuk meneguhkan dengan alasan :

a. Sudah 4 bulan di tunda, tetap saja BPW dan BPS kembalikan penyelesaiannya ke Jemaat.

b. Sinode sudah meneguhkan persoalan yang sama antara lain : Pnt. Drs Imba Rogi dan Pnt. Tangkawarow ( kebetulan keduanya Walikota Manado dan Tomohon ). Saya katakan, kalau basar-basar boleh dan yang kecil tidak boleh, ini sama sekali tidak adil.

c. Tanggung jawab pelayanan sebagai Pendeta tidak ada bedanya. Pendeta Sinode, Pendeta Wilayah dan Pendeta dalam jemaat.

Selanjutnya, apabila kemudian sesudah peneguhan BPS menjatuhkan sanksi kepada Ketua Jemaat, biarlah kita malam hari ini sepakat untuk mempertahankannya. Dengan cara membayar honor sendiri kepada Pendeta dengan catatan, jemaat kita tidak lagi menyetor sentralisasi ke Wilayah dan Sinode. Usulan ini diterima dan dilaksanakan dan ternyata BPS tidak mempermasalahkan hal ini lagi. Untuk pertama kali, Majelis Jemaat di teguhkan oleh Ketua Jemaat yang bersangkutan.

5. Selama ini di jemaat Musafir Kleak hanya terjadwal ke 6 Pendeta Pelayanan dan Ketua Jemaat. Padahal, di gereja-gereja lain tetap melibatkan Majelis Jemaat, Penatua dan Syamas. Oleh karena itu dalam Sidang Majelis Jemaat berikutnya saya bertanya : Apakah Majelis Jemaat dilarang untuk naik mimbar? Ternyata tidak ada larangan di dalam Tata Gereja. Sejak itu disetujui dan dijadwalkan, selanjutnya sampai sekarang.

6. Memindahkan Pendeta.

Pengganti Ketua Jemaat Musafir, dari Pnt Drs. W. Senduk, Sidang Majelis Jemaat mengusulkan ( ada peraturan baru Ketua Jemaat harus Pendeta ) jadi dari SMJ Musafir mengusulkan supaya Ketua Jemaat yang menggantikan Pnt. Prof Drs. W. Senduk, seharusnya Pendeta Senior dan Pria diusulkan ke BPS ternyata akhirnya BPS menempatkan Pendeta Muda dan wanita ialah : Pdt Helda Mamahit K. Sth, baru bertugas selama 1 tahun. Pendeta tersebut sudah menunjukkan tindakan-tindakan yang tidak cocok sebagai Pendeta yang mengarah kepada perpecahan persekutuan. Untuk itu saya meminta nasehat dari tua-tua jemaat antara lain : Prof. W. Senduk dan Pendeta senior Y. Toreh (kebetulan saya sebagai Sekretaris Jemaat), atas persetujuan ke 2 beliau, saya membuat laporan ke BPS, supaya atas alasan-alasan tersebut Pendeta dipindahkan saja. Laporan tersebut di tanda tangani oleh 12 anggota Majelis Jemaat. Setelah melalui proses perjuangan yang cukup panjang kurang lebih 6 bulan, akhirnya permohonan kami di setujui dan diganti oleh Pendeta Perguruan Tinggi Bpk Y. R. Matheos, STh.

7. Sebagai Penasehat BPMJ.

Setiap bulan ada SMJ, Tata Gereja menyatakan keharusan hadir Penasehat-Penasehat. Kebiasaan saya dalam SMJ, selalu mengambil kesempatan terakhir berbicara sebagai nasehat atau usulan-usulan yang lain yang berhubungan dengan agenda sidang. Maksud supaya sudah ada catatan-catatan untuk di arahkan, diperbaiki atau diusulkan. Rupanya ada yang merasa tersinggung atau terganggu dengan cara-cara saya di antara anggota BPMJ. Ternyata sudah 2 tahun lebih Penasehat tidak di undang lagi dalam SMJ. Saya sampaik keluhan kepada beberapa teman Majelis Jemaat, supaya hal ini di tanyakan dalam SMJ. Sesudah beberapa teman bersuara dan tidak di gubris, maka saya buat laporan tertulis ke BPS atas nama ke 3 teman Penasehat : Bpk Pnt Prof ABG Rattu dan Bpk Drs. AS Kindangen, MS. Selanjutnya Ketua ditegur oleh BPS dan kami di undang kembali. Dalam kehadiran saya dalam sidang itu, saya membacakan alasan-alasan laporan yang kami buat sekaligus dengan nasehat-nasehat yang perlu di perbaiki untuk persekutuan ke depan.

Usulan-usalan untuk meluruskan kesalahan-kesalahan yang sudah lama menjadi tradisi yang tidak berisi :

a. Syukuran hari ulang tahun.

Pemasangan lilin yang biasanya bermaksud sebagai symbol cahaya Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Benar nyanyian ……….. Pasanglah lilin…….. dst. Selanjutnya yang salah ialah …………. Nyanyian tiuplah lilin, tiuplah lilin…… dst.

Sebab yang benar symbol cahaya lilin Yesus Kristus yang tadi di pasang sebagai penyebab ucapan syukur umur panjang, mengapa akhirnya harus di tiup lagi? Hal ini bermaksud sama dengan ibadah-ibadah minggu di rumah gereja, harus di dahului dengan pemasangan lilin di muka mimbar. Dengan maksud supaya selama ibadah berlangsung boleh di terangi oleh Kuasa Yesus Kristus yang disimbolkan lilin itu. Jadi ini saya pikir hal ini tidak logis dalam tafsiran orang percaya. Jadi saya usulkan harus diteruskan dengan diganti nyanyian :

Jangan ditiup …… jangan ditiup cahaya lilin symbol Cahaya Yesus yang memberi kehidupan sampai umur panjang…… sambung dengan nyanyian umurlah panjang, umurlah panjang…….. umur panjang si hari jadi, dst…… umur panjang bagi kita semua. Lanjut dengan umurlah panjang seperti bait di atas tetapi bait diganti dengan kita semua 2x.

b. Untuk nyanyian : Bersyukur Kepada Tuhan 2x, sebab Ia baik, bersyukur kepada Tuhan

Nyanyian yang sangat pendek : Cuma 2x mengapa kita kurang berani menambah dengan bait yang lain, tetapi lagu yang sama menjadi……… bermazmur kepada Tuhan, bermazmur kepada Tuhan….. sebab Ia baik, menerangi hidup kita. Sampai yang ketiga kalinya …….. “ Belajarlah Firman Tuhan 2x, sebab Ia baik, memberkati hidup kita.

Sebab dengan demikian, kita lebih memperkaya isi bait nyanyian2 tersebut untuk menguatkan iman dan percaya kepada Tuhan.

c. Cara tafsiran dari mazmur yang bunyinya sbb :

Mazmur 90 : 10 ………. Masa hidup kami 70 tahun dan jika kami kuat 80 tahun ….. dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan…dst. Nats tsb di atas sering di pakai oleh Pelayan Jemaat umumnya pada acara-acara duka. Secara jujur kita tanggapi maksud Pendeta atau Majelis Jemaat arah tafsirannya kepada orang-orang yang hidup di atas 80 tahun ; ……….. akan mengalami hidup pendritaan dan kesukaran saja. Yang sebenarnya cara tafsir seperti itu hanya menakut-nakuti orang yang diberkati Tuhan mengalami hidup umur panjang. Saya berpendapat kalau begitu seriusnya Pelayan Tuhan berulang-ulang dengan arahnya yang demikian, mungkin saja ada orang-orang yang mau mengakhir hidupnya dengan bunuh diri. Padahal ada amsal yang berkata : Umur panjang ada ditangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan ( Amsal 3 : 16 ). Jadi jelas dan nyata maksud pengamsal bermaksud bahwa 80 tahun (berasal dari tangan Tuhan). Dan kebanggaannya kesukaran dan penderitaan. Jadi bukan berarti kesukaran dan penderitaan itu menakutkan malah justru kita merasa bangga dan bersyukur kepada Tuhan. Buktinya saya sekarang sedang mengalami berkat tangan kanan Tuhan ialah umur panjang yang tahun ini tahun 2021, mensyukuri ulang tahun yang ke 83 ( 15 April 2021 )………. Dan bukan dengan penderitaan dan kesukaran tetapi dengan berlimpah syukur dan terima kasih kepada Maha Besar Tuhan atas berkatNYA. Karena dengan kenyataan hidup sehat-sehat dengan istri yang juga sudah mensyukuri tahun ini ke 80 tahun ( 23 Desember 2021 )…….. kami hidup dengan pensiun di tambah dengan pemberian anak-anak kami. Kami diberkati dengan 5 orang anak yang tua sudah meninggal dengan umur 50 tahun ( lihat riwayat hidup di atas ) dan 4 lainnya sudah berumah tangga; sekarang kami sudah punya cucu 12 orang dan 1 cece. Jadi sebenarnya bukan hidup seperti tafsiran banyak pelayan yang jadi umur panjang “ so lebe banyak susah deng menderita “. Tetapi yang benar menjadi kebanggaan dalam mengenangkan sejarah kehidupan. Lebih dari itu bagi kehidupan kami apabila sewaktu-waktu kami mau merenungkan atau meningat kembali kesukaran dan penderitaan yang memang kami sudah alami mulai dari membangun rumah tangga bekerja dengan peras keringat, hamper-hampir mencucurkan darah sudah menjadi kenyataan sampai pada masa pernikahan anak-anak kami yang secara berturut-turut sudah berlaku dengan acara penuh kegembiraan tanpa keluhan apapun juga. ( Lihat riwayat hidup di atas ). Sungguh adalah perjuangan banting tulang dan peras keringat benarlah kami sudah rasakan seperti ungkapan Bung Karno : “ Vivery Pericoloso “ artinya “ Dalam berjuang : Berani menyerempet-nyerempet bahaya !”. Tetapi memang dalam kehidupan orang beriman, percayalah apa yang sudah di katakan oleh Tuhan kepada orang yang pertama-tama berbuat dosa, yaitu sesudah Adam melanggar perintah Allah di taman Firdaus, …………… ( Kej 3 : 13 bunyinya : Kemudian berfirmanlah Tuhan kepada perempuan itu : ………. Dst………. Ayat 17 : lalu firmanNYA kepada manusia itu (Adam) ………. Dst “ Karena engkau mendengarkan ………… dengan bersusah payah engkau akan mencari rejekimu dari tanah seumur hidupmu………. Sampai dengan ayat 19 ……….. ).

Pada akhirnya sebagai kesimpulan nasehat untuk anak-anak, cucu-cucu supaya hidup rajin, siap bersusah payah dengan banting tulang, peras keringat. Sebab dengan hidup bermalas-malasan akan menjadi sahabat iblis yang selalu mau mengantar hidup manusia kepada kebinasaan dan kehancuran. Sebab itu ingatlah Amsal-amsal yang menyatakan kepada manusia : Amsal 6 : 6 Hai Pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak.

Sekali lagi, kalau hidup malas kemudian hari adalah menjadi sebagai : pencuri, pengemis, perampok, koruptor dlsb. Akhirnya sebagai Opa, papa, menasehatkan sebagai penutup dalam buku kecil ini bahwa, menjalani hidup kita di dunia sekarang sampai selama-lamanya hanya ada 2 pilihan yaitu : Baca Galatia 6 : 16 – 26 ……….!

AMIN……..

7. Syukuran.

Dalam bagian ini, kami suami istri menyatakan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kuasa kasih dan berkatnya, di dalam menuntun perjuangan kehidupan rumah tangga kami boleh memberi kesempatan kami membeli :

- Sebidang tanah kebun di Timu yang luasnya kurang lebih 6 hektar dari keluarga Kosyungan. Pembelian terjadi secara bertahap 3 kali. Surat jual beli oleh Hukum Tua Kayuroya Frans Tendean dan Supit Tetealu. Sekalipun untuk yang ke 3 kalinya kami mengalami penipuan (ada uraian tersendiri).

- Rumah keluarga yang menjadi waris kepada kakak Herman, dengan cara tukar tambah (ada surat-suratnya).

- Kintal belakang rumah (separo) yang diwariskan kepada Kakak Frans ( lihat surat jual beli ).

- Rumah di Manado Kleak Lingkungan I, September 1980.

- Hasil ini semua berkat dari pengolahan kami atas lahan kurang lebih 1Ha di tanam cengkih dan berhasil. Lahan tersebut adalah warisan dari orang tua.

Sementara bersamaan waktunya kami boleh melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang berat namun berhasil antara lain :

Kel. Palilingan Watulingas, 7 orang, secara berturut-turut dapat menyelesaikan Pendidikan tingkat sarjana mulai dari Papa lanjut ke 5 anak-anak ( 2 di Unsrat dan 4 di IKIP ). Dan yang terutama, mama yang sudah lebih dulu menyandang Sarjana Dapur ( SD ) yang oleh karenanya kami semua sukses menyelasaikan pendidikan ini.

Di tengah-tengah perjuangan kehidupan,kami diijinkan untuk menanggung beban yang berat dalam merawat anak kami yang sulung selama kurang lebih 25 tahun dalam sakitnya dan dalam umur 50 tahun dia di panggil oleh Pemiliknya melepaskan kami dari tanggungan yang berat ini.

Dari ke empat anak kami, dapat diselesaikan dalam pernikahan secara berturut-turut dengan acara yang sukses dalam ibadah pernikahan di rumah gereja. 2 di Manado di RM Bunaken dan 2 di Balikpapan Ampera Di Gedung Pertemuan Maranatha dan Jacky di Gedung Banua Patra.

Sampai sekarang hasil usaha kami dalam perjuangan yang berat tersebut di atas tidak ada yang terjual; sehingga sudah boleh di wariskan kepada anak-anak kami, tepat sesudah kami diijinkan Tuhan merayakan Hari Ulang Tahun Perkawinan yang ke 50 “27 Mei 2011 ” di Aula Santu Yosep”

8. Materi – Materi PPWG

- KeTuhanan Yang Maha Esa Bagi orang Kristen artinya : Hanya ada satu Yuhan Allah yang Tritunggal : Bapa, Anak dan roh Kudus.

- Hormati Tuhan Allah mu. Kasihilan sesamamu manusia

- Tiga panggilan gereja : Koinonia, Marturia dan Diakonia.

- Empat model Kasih : Philia, Eros, Agape dan Storge.RRahasia hidup sukses : Doa, Yakin, rasakan, bersyukur jadi berkat ( saksi ).

Panca iman haruslah dan dijabarkan atas dasar : Keadilan, kebenaran dan kesetiaan.Tiga dasar sebagai inti dari Hukum Taurat Musa. Supaya umur menjadi Panjang jalankan teori ini dengan :

Panca Kesehatan :

1. Makanan bergizi

2. Minum air putih yang banyak

3. Suka cita dan damai sejahtera

4. Kebersihan lingkungan hidup

5. Olah raga dan tidur nyenyak.

Pada selanjutnya, kedua panca di atas pastilah akan membuahkan hidup yang umur Panjang.

Ada suatu kesaksian dari seorang yang tertua di dunia sekitar tahun 1962 :

Suatu hari yang cerah setelah saya baru pulang dari kebun, setelah tiba di rumah kira-kira jam 18.00, saya langsung memutar TV (hitam Putih) untuk acara berita dunia waktu itu.

Orang tua dengan umur 135 tahun sedang diwawancarai oleh wartawan dari Switzerland. Kebetulan dimulai; tentu saja sangat menarik perhatian karena umur yang langka tersebut. Yang menjadi pertanyaan wartawan kepadanya ialah : “ Apa resepnya bapak dalam menjalani hidup sehingga sekarang boleh berusia 135 tahun?”

Penuturan bapak dengan kalimat-kalimat yang jelas dan cukup Panjang; akhirnya

Catatan yang saya tangkap saya ringkaskan menjadi 3 hal pokok :

Trilogi Umur Panjang :

1. Bergaul dekat dengan Tuhan.

2. Bekerja Keras.

3. Hati yang bergembira

Sebagian inti pelajaran materi kuliah Ilmu Jiwa (Psikologi), yang pernah saya pelajari di SGB dan SGA (sekarang lupa sumber bukunya dengan para ahlinya).

Pada satu hari Minggu 2 Januari 2021 pukul 03 subuh, saya terbangun dari tidur karena tidak dapat kembali, lalu bangun dan keluar dari kamar, saya langsung menuju meja kerja Reki anak saya yang kedua (Profesor) secara kebetulan saya di atas meja kerja tersebut, terletak sebuah buku dengan judul “ Cara hidup dan berpikir positif” Pengarang ……….. Lanjut saya membuka2 buku tersebut dan membaca beberapa dari bagian isinya.Kebetulan waktu itu saya sedang merampungkan buku riwayat hidup saya yang isinya antara lain :

Sebagai Ketua Komisi PWG, menyiapkan materi diskusi bagi anggota-anggota jemaat :

Judul “Cara hidup dan berpikir positif “ Garis besar dan alur pikirannya sebagai berikut ( Lihat Skema ) :

8. PENUTUP

A. Manfaat Riwayat Hidup.

- Riwayat hidup pada hakekatnya sama dengan pelajaran sejarah suatu bangsa yang di dalamnya ada sejarah pahlawan-pahlawan. Jadi ada dikandung maksud supaya menjadi pelajaran manusia hidup mencontoh yang baik dan menjauhkan yang jahat. Menjadi pedoman atau tuntunan jalan hidup ke depan nanti. Kata pepatah “Tidak dikenal maka tidak di sayang” Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat.

- Riwayat hidup ini konsepnya saya buat sendiri, kemudian saya di bantu oleh anak-anak cucu-cucu saya: Alennov, Tesalonika, Jeje dan Sheren, mengetik dan akhirnya di edit oleh Hellen.

Oleh sebab itu dengan segala hormat saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada semuanya.

- Hanya bermodalkan nekat, siap berkorban secara rutin, tetapi juga karena kekuatan dan kesehatan yang Tuhan anugerahkan kepada kami suami istri; hasil jerih payah kami dapat di pelihara dan terpakai untuk kesejahteraan kami sekeluarga sampai sekarang. Perkembangan rumah tangga dari tahun 1962, rumah tangga ini di karunai 5 orang anak, mereka lahir secara rutin setiap 2 tahun; mulai yang sulung tahun 1962 sampai yang bungsu tahun 1970. Ke 5 anak ini semuanya selesai Pendidikan S1 sekarang 4 anak berkeluarga dan kami senantiasa bersuka cita dengan keluarga besar: 5 anak, 11 cucu, 1 cece. Kami berdoa :

Kiranya pemeliharaan, kasih sayang serta berkat Tuhan yang menjadi pengalaman dan kesaksian iman kami sekelurga saat ini senantiasa berlangsung terus menerus sampai saatnya tiba Tuhan mengakhiri kehidupan kami masing-masing sesuai kehendakNYA. AMIN……

B. SUSUNAN DOA UMUM

Menurut pengamatan saya selama dalam pelayanan, cara Pelayan mengucapkan doa umum tidak sesuai lagi dengan aturan yang telah ditetapkan dalam Tata Gereja. Susunan yang sebenarnya adalah : Doa Penyembahan, Doa Ucapan Syukur, Doa Permohonan, Doa Syafaat dan di akhiri dengan Doa Bapa Kami ( 5 unsur ). Tapi ternyata dalam prakteknya secara jujur kita menilai bahwa tidak lagi menurut urutan yang dimaksud. Kebanyakan para Pelayan Jemaat langsung dengan doa mengucap syukur dan sesudah itu urutan menjadi kacau balau menerawang kesana kemari, dan setelah habis bahan mereka langsung menutup dengan Doa Bapa Kami. Yang lebih menarik dan lucu kedengaran kata-kata sebagai pengantar kesinambungan untuk menuju kepada Doa Bapa Kami sangat tidak teratur contoh : Inilah doa kami yang kesempurnaannya hanya kami boleh bawakan Doa Bapa Kami yang kita ucapkan bersama-sama. Karena itu bagi saya terpikirlah untuk menyusun Doa Bapa Umum menurut aturan yang sebenarnya sebagai berikut :

Susunan Doa Umum yang saya buat sejak pension Tahun 1995. Dan sejak itu doa ini sudah menjadi kebiasaan saya untuk diucapkan setiap hari mulai dari bangun tidur sampai sekarang ini. Bunyinya sebagai berikut :

= Allah Bapa di Sorga, Ya Yesus Kristus, Ya Roh Kudus : sepanjang hidup yang telah anugerahkan kepada kami , kami pakai datang menyembah kepadaMU, karena Engkaulah Allah kami yang hidup yang ada disegala tempat dan waktu, yang mengatur dan memberkati kehidupan kami anak-anak Tuhan sampai selama-lamanya. Sebab itu kami memuji, menyembah kemuliaan Tuhan selama-lamanya dalam kehidupan ini.

= Kami mengucap syukur kepada Tuhan karena memberi hidup umur panjang atas seisi rumah tangga hambaMU ini, sesudah Tuhan memanggil beberapa kekasih kami.

Mengucap syukur karena kuasa kasih dan berkatMU Tuhan selalu menjadi nyata dalam kesaksian dan pengalaman hidup kami anak-anakMU. Terima kasih Tuhan, sebab Engkau sudah menjaga dan melindungi kami dengan selamat dan sehat. Oleh sebab itu dahulu atau sementara kami menjalani hidup di hari baru ini, kami datang menghadap Tuhan dan bermohon di dalam doa.

= Kawalilah dan sertai kami dalam menjalani hidup hari ini, jauhkan dari celaka, hindari kami dari segala penyakit, patahkan godaan-godaan iblis, yang selalu mau membinasakan dan meresahkan kami anak-anakMU. Berilah kesempatan dan kemampuan bagi kami melaksanakan tugas-tugas kerja dan panggilan yang Tuhan telah amanatkan bagi kami masing-masing sesuai dengan profesi kami, supaya setelah kami melaksanakan semuanya itu hanya boleh jadi untuk hormat dan kemulaiaan nama Tuhan saja.

Oleh sebab itu kami berdoa kepada MU Tuhan, berkati kami dengan kesehatan tubuh dan rohani; berkati kami dalam segala usaha kerja kami, berkati kami dengan keamanan, kedamaian, kesukacitaan, dan kesejahteraan hidup; dalam hubungan dengan sesama manusia, sebagai satu rumah tangga, sebagai anggota masyarakat dan bangsa, bahkan terlebih dalam persekutuan jemaat Tuhan.

Berkati kami dengan umur panjang, kearifan akal dan kebijaksanaan, dalam berpikir dan berkata-kata supaya dalam hidup kepelayanan kami terutama kami di usia lanjut ini, masih mampu menyenangkan hati Tuhan dan boleh menjadi berkat bagi banyak orang. Ya Tuhan lihatlah dan tilik satu persatu apa yang menjadi cica-ciat, harapan dan kerinduan kami dalam menjalani sisa-sisa kehidupan kami yang Tuhan sendiri sudah tetapkan bagi kami masing-masing. Sungguh kami menyadari, kelemahan kami karena dosa, sehingga kami sadar pula apa saja yang kami katakan, kami pikirkan, kami perbuat, kalua Tuhan tidak berkenan maka semua sia-sia adanya; Tidak satupun yang kami capai, kami miliki, atau kami nikmati. Oleh sebab itu dengan kerendahan hati, kami berdoa, biarlah pekerjaan kuasa Roh Kudus Tuhan berproses, beracara di dalam pikiran dan hati kami untuk menjadikan apa yang lebih baik menurut pemandangan Tuhan dari sekian banyak cita-cita dan kerinduan serta harapan, itulah saja yang Tuhan jadikan bagi kami. Jadilah kehendakMU, bukan kehendak kami yang jadi, karena kami yakin apa yang Tuhan telah buat kami baik adanya; suka duka di buat oleh Tuhan untuk kebaikan kami; karena Tuhan senantiasa merencanakan masa depan yang terbaik bagi anak-anak Tuhan, yang selalu berseru dan berserah hidup ini dalam tangan pemeliharaan kasih sayang Tuhan saya.

= Ya Tuhan kami disini, turut mendoakan juga bagi anak-anak kami seisi rumah tangga ini, anak-anak, cucu-cucu, cece; saudara-saudara kami dimanapun mereka berada ……………………..

Anggota Wherdatama dan teman sekerja Allah di wilayah pelayanan jemaat Musafir dari kolom 1 sampai kolom 28 secara khusus di kolom 26, dimana hambaMU berdomisili, …………dll ……….dst. Biarlah Tuhan berkenan memberlakukan doa hambaMU disini bagi mereka semua di tempat mereka masing-masing yang sekalipun kami berjauhan tempat tinggal, persatukan saja kami dalam satu iman, harap dan kasih kepadaMU ya Yesus Kristus Juru Selamat kami yang hidup.

= Ya Tuhan masih banyak hal yang hendak kami pohonkan kepadaMU, namun kami selalu merasakan kelemahan dan keterbatasan karena perbuatan dosa yang sadar ataupun tidak sudah kami lakukan melawan kekudusan dan kehendak Tuhan; sehingga kami lemah tak mampu mengungkapkan isi hati dan pikiran kami ini kepada Tuhan. Oleh sebab itu selalu kami mohon kepada Tuhan ampunilah dosa-dosa kami; biarlah sesuai dengan janji firmanMU karena pengorbanan Kristus di Bukit Golgota dan kebangkitanNYA, kami menerima pengampunan dosa sekaligus semangat hidup baru, semangat kebangkitan, supaya kami lebih rajin, lebih taat dan lebih setia menjalani kehidupan kami menuruti segala perintah FirmanMU, serta menjauhkan diri dari segala larangan FirmanMU; tetapi juga berilah waktu bagi kami, Ya Tuhan, untuk menyaksikan jawaban doa-doa kami dari Tuhan, menurut cara dan waktu Tuhan sendiri.

Allah Bapa di dalam sorga, sungguh Engkau sajalah Allah kami Yang Besar dan Perkasa, mengetahui isi hati dan pikiran kami, sehingga tidak ada yang tersembunyi di hadapan kekudusan Tuhan, oleh sebab itu kesempurnaan doa kami kedapaMU, senantiasa hanya kami boleh bawakan dalam nama Yesus, yang sudah mengajar Gereja berdoa.

= Bapa Kami dalam sorga ………. Dst. AMIN…….!

Doa ini sudah saya laksanakan, sejak pensiun sampai sekarang ( 27 tahun ). Itulah sebabnya Tuhan memanggil saya, menjadi Majelis Jemaat selama 6 periode dari tahun 1976 s/d 2014. Sesudah tahun 2014, menjadi Penasehat BPMJ 2 periode dan terakhir tahun 2021, sebagai Ketua Komisi Kerja Pembinaan Warga Gereja (PWG).



Comments